Arsip Blog

Jumat, 22 April 2011

PERUBAHAN BAHASA


Makalah ini membahas tiga seri topik sosiolinguistik yaitu perubahan, pergeseran, dan pemertahanan bahasa. Pembahasa tiga topik sosiolinguistik secara bersamaan karena ketiganya memiliki keterkaitan satu sama lain.
Konsep perubahan misalnya yang dikemukakan pada awal pembahasan, menguraikan tentang mengungkap kembali sebuah pertanyaan lama dalam ranah sosiolinguistik, yakni, dapatkah perubahan linguistik diamati? Dan pertanyaan ini sebenarnya sudah dijawab oleh Saussure (1959) dan Bloomfield (1933), bahwa perubahan bahasa tidak dapat diamati, yang mungkin diharapkan dapat amati adalah konsekuensi perubahan itu sendiri.
Banyak alasan sosial yang berbeda untuk memilih kode khusus atau variasi dalam komunitas lintas bahasa. Tetapi pilihan apa bagi mereka yang berbicara dengan bahasa yang kurang  digunakan, di mana orang yang berkuasa menggunakan bahasa dunia seperti bahasa Inggris? Bagaimana faktor politik dan ekonomi mempengaruhi pilihan-pilihan bahasa mereka? Bagian ini akan membahas (1) hambatan dalam melakukan pilihan bahasa yang dihadapi oleh komunitas berbeda, (2)  dampak-dampak yang ditimbulkan dari pergeseran bahasa yang dalam waktu lama dapat terjadinya perubahan atau  lenyapnya bahasa, (3) upaya-upaya apa saja yang dapat dilakukan dalam rangka pemertahanan bahasa, akan dibahas dalam bagian ini.  
 I. Perubahan Bahasa 
A. Konsep Perubahan Bahasa
Perubahan bahasa berkenaan dengan perubahan bahasa sebagai kode, sesuai dengan sifatnya yang dinamis, dan sebagai akibat persentuhan dengan kode-kode lain, bahasa itu bisa berubah.
Terjadinya perubahan bahasa menurut para ahli tidak dapat diamati, hal ini karena proses perubahan terjadi berlangsung dalam waktu yang relatif lama, sehingga tidak mungkin diobservasi oleh peneliti. Namun demikian, bukti adanya perubahan bahasa itu, dapat diketahui. Terutama pada bahasa-bahasa yang telah memiliki tradisi tulis dan mempunyai dokumen tertulis dari masa lampau (Chaer, 2004: 134) .
Perubahan bahasa lazim diartikan sebagai adanya perubahan kaidah, entah kaidahnya itu direvisi, kaidahnya menghilang, atau munculnya kaidah baru, dan semuanya itu dapat terjadi pada semua tataran linguistik, seperti: fonologi, morfologi, sintaksis, kosakata, semantik, maupun leksikon.
Perubahan bahasa juga dapat terjadi akibat terjadinya proses penyerapan (ke dalam bahasa Indonesia). Akibat masuknya kata-kata asing menyebabkan terjadinya dua macam perubahan, yakni perubahan bentuk kata-kata yang masuk dalam rangka penyesuaian dengan kaidah bahasa penerima, dan perubahan kaidah bahasa penerima, dalam rangka menampung unsur yang datang dari luar itu.
Ahli bahasa memperdebatkan apakah perubahan bahasa dapat diamati atau tidak. Menurut Sausure (1959) dan Bloomfield (1913) yang dapat kita lakukan adalah mengamati akibat dari perubahan bahasa tersebut. Akibat yang terutama dari perubahan bahasa tersebut adalah adanya perbedaan terhadap struktur bahasa tersebut.
Bahasa Inggris, Arab, Indonesia, Melayu, dan bahasa Jawa termasuk bahasa yang dapat diikuti perkembangannya sejak awal, sebab bahasa-bahasa tersebut memiliki dokumen-dokumen tertulis yang dapat dijadikan objek penelitian.
Para ahli bahasa awalnya mengamati perubahan bahasa dalam bentuk adanya variasi bahasa dalam penggunaan bahasa tersebut. Tetapi belakangan, ahli bahasa tidak hanya dapat mengamati bagaimana sebuah bahasa terdistribusi di masyarakat tetapi juga bagaimana distribusi bahasa membantu kita memahami bagaimana sebuah perubahan terjadi dalam suatu bahasa.
B. Pandangan Tradisional
Perubahan bahasa yang terjadi didalam internal bahasa sendiri, yang menyebabkan perbedaan struktur bahasa. Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu sebuah kata diucapkan berbeda. Dalam bahasa inggris, ada dua kata berbeda untuk menyebut kuda, horse dan hoarse. Juga ada dua kata yang awalnya berasal dari satu kata, thin dan thing. Sehingga terjadi satu unit pengucapan kata menjadi dua.
Perubahan yang kedua adalah perubahan yang hakikatnya merupakan perubahan eksternal. Perubahan ini terjadi akibat adanya peminjaman (borrowing) dari bahasa/dialek lain ke dalam sebuah bahasa. Dalam bahasa Inggris contohnya adalah pengucapan Zh untuk J dalam contoh mengucapkan Jeanne.
Beberapa bahasa di dunia juga mengalami pemijaman dari bahasa-bahasa lain, seperti bahasa Hindi banyak meminjam dari bahasa Sansakerta, atau bahasa Urdu dari bahasa Arab. Peminjaman kadangkala terjadi tidak hanya kepada tataran pengucapan saja tetapi juga kepada tataran tata bahasa meskipun hal ini sangat terbatas.
Pandangan tradional terhadap perubahan bahasa juga tertarik melihat “kekerabatan bahasa”/ ” keluarga bahasa” dan hubungan antara bahasa-bahasa. Ahli bahasa merekonstruksi sejarah bahasa yang saling berhubungan, yang memiliki kemiripan, sehingga dapat melihat suatu saat di masa lalu ketika satu bahasa terpecah atau hilang. Bahkan juga dilihat, meski jarang, penyatuan bahasa. Pendekatan alternatif, gelombang bahasa, lebih mudah digunakan dalam melihat perubahan bahasa. Dengan pendekatan ini, perubahan bahasa yang timbul dilihat sebagai sebuah aliran dan interaksi bahasa-bahasa. Meskipun tidak mudah untuk melihat aliran bahasa yang masuk ke suatu bahasa.  Ini merupakan jenis perubahan bahasa yang ketiga, yaitu bahwa bahasa berkembang dan menyebar. Pengamatan mengenai perkembangan bahasa ini di sebut etimologi, yaitu kajian yang menyelidiki asal usul kata.
Dengan konsep “gelombang” dan “difusi” bahasa, akan membantu kita memahami proses perubahan bahasa. Konsep mengenai “keluarga/kekerabatan bahasa” melihat akibat yang ditimbulkan dalam perubahan yang terjadi dalam sebuah bahasa.
C. Beberapa Perubahan Bahasa yang sedang Berlangsung
Beberapa ahli bahasa mengamati perubahan bahasa yang sedang terjadi. Misalnya, Chambers dan Trudgill (1980) menjelaskan perkembangan pengucapan r uvular (pengucapan dengan anak lidah) dalam bahasa Eropa Barat dan Eropa Utara. Dulu pengucapan r di wilayah tersebut dengan apikal (menempelkan ke langit-langit) atau bergetar, tetapi mulai abad ke-17 cara pengucapan r uvular menyebar dari Paris menggantikan cara pengucapan r yang lain. Cara pengucapan ini menjadi cara pengucapan standar di Perancis, Jerman, dan Denmark, juga ditemukan di Belanda, Swedia, dan Norwegia.
Seorang ahli bahasa, Gimson (1962) mengamati bahwa beberapa pengucapan huruf vokal diftong cenderung diucapkan menjadi satu huruf vokal, contoh pada kata home. Gejala ini biasanya terjadi pada lingkungan anak muda. Di AS, beberapa contoh ditemui, misal: naughty à notti, caught à cot, dawn à don.
Dari contoh di atas dapat diamati bahwa faktor usia, anak muda kecenderungan untuk menggunakan bahasa yang berbeda dengan generasi yang lebih tua. Meksipun, faktor usia bukanlah jaminan mengenai fenomena perubahan bahasa. Bukan jaminan, ketika sekelompok anak muda menggunakan bahasa yang berbeda dengan mereka yang lebih tua, tetapi kemungkinan pada kurun tertentu di masa ketika mereka menjadi lebih dewasa/tua mereka tetap mempertahankan gaya bahasa mereka. Bisa jadi mereka akan menggunakan bahasa sesuai dengan usia mereka. Untuk melihat fenomena ini, maka metode penelitian survei cocok untuk diterapkan. Penelitian dilakukan kepada penggunaan bahasa oleh sampel sekelompok anak muda, kemudian ketika mereka berusia 20 – 30-an tahun, penggunaan bahasa mereka di cek lagi apakah cenderung sama atau berubah, dan hasilnya dibandingkan.
Penelitian yang membandingkan dua set data pada dua kurun waktu yang berbeda dilakukan oleh Labov (1963) dalam hal pengucapan bahasa di Vineyard Martha, tiga mil dari Massachussets, penduduknya terdiri dari orang Yankee, Portugis, dan Indian America. Penelitiannya berfokus kepada dua set kata: (1) out, house, dan trout dan (2) while, pie, dan night. Penelitian dilaksanakan pada tahun 1930. Variabel penelitian dua set, pertama (aw) untuk variabel (au ) atau (əu), kedua (ay) untuk variabel (ai) atau (ei).
Pada tahun 1972, Labov mempublikasikan temuannya. Penjelasan dari temuannya adalah penduduk asli merasa lebih memiliki pulau mereka dengan menggunakan variabel pertama (aw) dan (ay). Temuan tersebut mengindikasikan bahwa anak muda masih bebas untuk memilih, di mana akan tinggal. Tidak seperti orang tua, yang merasa nyaman dengan tempat tinggalnya, sehingga cenderung memilih penggunaan bahasa yang berbeda dari pada ketika masih mudanya.
Labov juga mengamati perbedaan pengucapan r oleh kelompok sosial kelas menengah yang cenderung lebih “hiperkorektif” dalam mengucapkan r dengan pengucapan yang lebih jelas, juga oleh laki-laki dari pada perempuan. Perempuan mulai mengucapkan r dengan lebih jelas seperti halnya laki-laki.  Hal ini mengindikasikan bahwa kelas sosial yang lebih rendah telah menerima gaya bahasa yang formal.
Trudgill (1972) mengamati perubahan bahasa yang sedang terjadi. Dia mengamati bahwa pekerja wanita lebih suka mengucapkan (ng) dengan (n), contoh pada kata singing, wanita mengucapkan (singin’) bukan (singing). Pengamatannya menghasilkan temuan bahwa perubahan bahasa juga ditentukan oleh faktor gender.
Cheshire (1978) melakukan penelitian di Reading, Inggris. Dia menemukan bahwa anak laki-laki dari strata kelas sosial bawah lebih sering menggunakan sintaksis bahasa yang tidak standar dari pada anak perempuan. Gejala ini menunjukkan, adanya “solidaritas” dalam penggunaan bahasa.
Penelitian-penelitian di atas mengarahkan kita untuk membatasi area yang mengakibatkan perubahan bahasa. Yang memotivasi perubahan bahasa dapat beragam, mulai dari: mencoba menjadi warga kelas “yang lebih tinggi” atau sebaliknya “lebih rendah”, agar tidak dianggap “orang asing”, atau agar dianggap memiliki jiwa “solidaritas”. Wanita juga dianggap cukup aktif dalam membawa perubahan bahasa, meskipun laki-laki juga bisa.
 D. Mekanisme Perubahan
Menurut Labov (1972) ada beberapa mekanisme dasar dalam perubahan bahasa. Mekanisme yang memiliki tiga belas tahapan, dan Labov menyebut delapan tahapan pertama sebagai “perubahan dari bawah”, sementara lima sisanya dia sebut sebagai perubahan dari atas”. Berikut ketiga belas tahapan tersebut:
1.      Bunyi berubah biasanya bermula ketika penggunaan bahasa anggota kelompok dari komunitas penutur bahasa tertentu terbatasi, yaitu masa dimana ketika identitas komunitas yang terpisah menjadi lemah. Bentuk linguistik yang berganti biasanya berupa penanda status wilayah dengan distribusi penggunaan bahasa yang tidak merata dalam masyarakat. Pada tahap ini, variabel linguistik yang berubah belum ditentukan.
2.      Perubahan baru terjadi ketika ada generalisasi bentuk (pola) linguistik oleh anggota kelompok penutur bahasa; tahapan ini biasanya disebut dengan perubahan dari bawah, yaitu perubahan yang terjadi dari kesadaran sosial. Variabel linguistik menunjukkan belum ada pola variasi gaya bahasa dalam penggunaan bahasa oleh penuturnya, namun mempengaruhi semua kelas kata yang telah ada sebelumnya. Variabel linguistik pada tahap ini ini merupakan sebuah indikator yang ditetapkan sebagai fungsi keanggotaan pada komunitas sosial.
3.      Berhasil meningkatkan jumlah penutur bahasa pada kelompok sosial yang sama serta berhasil merespon tekanan sosial masyarakat yang sama, membawa variabel linguistik menuju proses perubahan bahasa, menjadi berbeda dari bahasa induknya. Perubahan ini disebut perubahan hiperkorektif dari bawah.
4.      Ketika sistem nilai masyarakat penutur asli bahasa diadopsi oleh kelompok masyarakat lain, perubahan bunyi-bunyi bahasa yang berkaitan nilai-nilai kemasyarakatan tersebut agar menyebar kepada kelompok masyarakat yang mengadopsinya.
5.      Batas dari penyebaran perubahan bahasa merupakan batas dari komunitas bahasa.
6.      Ketika perubahan bunyi bahasa dengan segala nilai-nilai sosial yang melekat didalamnya mencapai batas penyebarannya, maka variabel linguistik menjadi  salah satu norma yang menjadi bagian dari masyarakat, dan akan dijaga oleh masyarakat. Variabel linguistik ini sekarang menjadi penanda dan akan mulai menunjukkan variasi/gayanya sendiri.
7.      Perubahan variabel linguistik didalam sistem linguistik akan selalu menyesuaikan distribusi unsur-unsur linguistik yang lain dalam tataran fonologi.
8.      Penyesuaian struktur menyebabkan perubahan bunyi kebahasaan yang masih berhubungan dengan bahasa asalnya. Tetapi kelompok penutur bahasa yang baru akan memperlakukan bunyi bahasa yang diterimanya sebagai bunyi baru dalam komunitas penutur bahasa tersebut.
9.      Apabila kelompok penutur bahasa yang menerima bahasa baru bukan dari kelas yang lebih tinggi, maka kelompok masyarakat yang berasal dari kelas yang lebih tinggi akan “mempengaruhi” bentuk linguistik.
10.  Perubahan diatas merupakan perubahan dari atas,  suatu koreksi bagi bentuk kebahasaan yang berubah karena mendapat pengaruh dari bahasa kelompok masyarakat yang lebih tinggi, yaitu model bahasa yang prestis.
11.  Apabila model bahasa prestis (bergengsi) tidak mendukung bentuk kebahasaan yang digunakan oleh kelompok masyarakat dalam beberapa bentuk kelas kata, maka kelompok lain akan melakukan hiperkoreksi, memasukkan unsur kebahasaan yang seharusnya dilakukan oleh bahasa prestis.. Ini disebut dengan hiperkoreksi dari atas.
12.  Dalam perubahan yang kuat, satu bentuk kebahasaan akan muncul, dan mungkin juga menghilang. Hal ini disebut dengan streotipe / model bahasa.
13.  Apabila perubahan bahasa terjadi pada kelas sosial yang lebih tinggi, bentuk bahasa akan menjadi model bahasa prestis. Bahasa yang kemudian akan diadopsi oleh penutur bahasa yang lain sesuai dengan proporsi kontak bahasa penutur bahasa terebut dengan bahasa prestis .
Perubahan bahasa terjadi melalui cara-cara yang kompleks dengan berbagai jalan perubahannya: cara secara sadar atau tidak sadar dalam perubahan bahasa; tempat yang membuat tingkat sosial masyarakat ikut mempengaruhi perubahan; juga beberapa konsep “indikator”, “penanda”, “streotipe”, “atau “hiperkoreksi”.
Perubahan bahasa dari atas merupakan perubahan bahasa secara sadar. Seharusnya perubahan tersebut juga diikuti oleh pola-pola linguistik yang standar. Perubahan dari bawah merupakan perubahan bahasa secara tidak sadar dan cara tersebut jauh dari pola-pola linguistik standar.  Yang menarik juga adalah wanita dianggap kelompok pertama yang membawa perubahan bahasa, sementara laki-laki kedua. Wanita memiliki motivasi untuk mengikuti dan menyesuaikan dengan pengguna bahasa yang lebih kuat sementara laki-laki cenderung mengikuti temannya. Wanita cenderung lebih sadar untuk memahami perubahan bahasa sementara laki-laki tidak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar